terasmalut — Hujan deras yang mengguyur Kabupaten Halmahera Barat (Maluku Utara), Provinsi Maluku Utara, pada Selasa (7/1/2026), tidak hanya memicu banjir dan tanah longsor, tetapi juga menyisakan persoalan mendasar yang kini dihadapi warga Desa Tolofuo, Kecamatan Loloda, yakni terhentinya akses terhadap air bersih.
Sumber air utama masyarakat setempat yang dikenal dengan sebutan pancora dilaporkan rusak total setelah diterjang banjir dengan arus deras, sehingga tidak lagi dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan dasar warga.
Kerusakan tersebut berdampak langsung pada seluruh aktivitas kehidupan masyarakat, mulai dari kebutuhan minum, memasak, hingga sanitasi, dan menempatkan warga pada kondisi darurat air bersih yang belum tertangani secara memadai.
“Sejak pancora rusak diterjang banjir, kami sama sekali tidak punya sumber air bersih yang bisa diandalkan,” ujar seorang warga Desa Tolofuo, menggambarkan kondisi yang mereka alami pascabencana.
Di tengah keterbatasan tersebut, hujan yang sebelumnya dinantikan untuk mengisi kembali sumber air justru menghadirkan ketakutan tersendiri bagi warga, mengingat peristiwa longsor yang sempat terjadi dan mengancam keselamatan pemukiman.
“Kami berharap hujan turun supaya air kembali ada, tetapi trauma longsor masih sangat kami rasakan,” kata warga lainnya, mencerminkan dilema antara kebutuhan dan rasa aman.

Ketergantungan warga terhadap satu sumber air menunjukkan rapuhnya infrastruktur dasar di wilayah rawan bencana, sekaligus memperlihatkan perlunya sistem penyediaan air bersih yang lebih adaptif terhadap kondisi cuaca ekstrem.
Dalam situasi tanpa hujan, sebagian warga terpaksa menempuh jarak yang cukup jauh untuk mencari air minum, bahkan menggunakan sumber air alternatif yang kualitasnya belum terjamin bagi kesehatan.
“Kalau tidak hujan, kami harus ambil air minum dari mana?” ucap seorang warga dengan nada tegas, menandai kecemasan yang kini menjadi keseharian masyarakat Tolofuo.
Kondisi ini berpotensi menimbulkan persoalan lanjutan, khususnya terkait kesehatan masyarakat, apabila krisis air bersih berlangsung dalam waktu yang lama tanpa penanganan yang terarah dan berkelanjutan.
Warga berharap adanya perhatian dan langkah konkret dari pemerintah daerah, baik pemerintah kabupaten maupun pemerintah provinsi, untuk memulihkan sumber air bersih sekaligus membangun sistem yang lebih aman dari risiko bencana.
“Kami sangat berharap pemerintah memberi perhatian khusus, karena air bersih adalah kebutuhan paling dasar dan menyangkut kelangsungan hidup kami,” tutup seorang warga Desa Tolofuo.













