terasmalut — Antrean panjang sejak Jumat (10/04/26) tampak di Desa Hatebicara, Kecamatan Jailolo, Kabupaten Halmahera Barat. Puluhan warga dari berbagai kecamatan datang sejak pagi hari untuk mendapatkan layanan terapi dari sejumlah praktisi non-medis asal Sulawesi Utara.
Para praktisi tersebut yakni Mais Katulung, Kepas Katulung, Gabriel Katulung, dan Sandi Potabunga. Mereka dikenal luas di tengah masyarakat karena pendekatan terapi yang diyakini membantu menangani berbagai keluhan kesehatan, baik medis maupun non-medis.
Jenis keluhan yang ditangani cukup beragam, mulai dari asam lambung menahun, asam urat, maag akut, saraf terjepit, vertigo, sakit kepala menahun, hingga asma. Selain itu, mereka juga menerima berbagai keluhan kesehatan lainnya yang dirasakan pasien.
Kepercayaan masyarakat terhadap layanan ini terus meningkat, seiring banyaknya pengalaman pasien yang mengaku merasakan perubahan kondisi kesehatan setelah menjalani terapi. Dalam praktiknya, para terapis menggabungkan pendekatan fisik dengan sentuhan spiritual, yang menjadi ciri khas layanan mereka.
Di lokasi praktik, suasana tetap tertib meski jumlah pasien cukup banyak. Warga datang dengan harapan memperoleh perbaikan kondisi kesehatan. Tidak sedikit di antara mereka yang rela menempuh perjalanan jauh demi mendapatkan kesempatan menjalani terapi.
Untuk memastikan kelancaran pelayanan, kegiatan ini didukung oleh tim administrasi yang membantu mengatur alur pasien. Tercatat Adnan Hairudin sebagai Admin Provinsi dan Sarlin Antu sebagai Admin Kabupaten Halmahera Barat yang berperan dalam pengelolaan antrean dan koordinasi di lapangan.
Pelayanan dilakukan secara bergiliran guna menjaga kenyamanan dan ketertiban. Tim pendamping turut membantu memastikan proses berjalan kondusif.
Selain fokus pada tindakan terapi, para praktisi juga menekankan pentingnya ketenangan batin dan keyakinan dalam proses pemulihan. Mereka memandang bahwa penyembuhan tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik, tetapi juga melibatkan aspek mental dan spiritual.
Meski dikenal luas di masyarakat, para praktisi tetap menunjukkan sikap rendah hati. Mereka memandang kemampuan yang dimiliki sebagai bentuk pengabdian untuk membantu sesama.
Fenomena ini menunjukkan bahwa pendekatan personal, pengalaman pasien, serta kepercayaan masyarakat menjadi faktor penting dalam membangun hubungan antara praktisi dan warga.
Lebih dari sekadar layanan terapi, praktik ini telah menjadi ruang harapan bagi banyak orang yang mencari pemulihan kesehatan.*(Ghe/Red)














