DOB Sofifi Dinilai Mandek, Dasril Usul Sidangoli dan Goal Jadi Alternatif

- Jurnalis

Senin, 28 Juli 2025 - 10:44 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Anggota DPRD Halmahera Barat, Dasril

Anggota DPRD Halmahera Barat, Dasril

 

terasmalut — Penetapan Sofifi sebagai Daerah Otonomi Baru (DOB) Provinsi Maluku Utara kini mulai dipertanyakan efektivitas dan kelayakannya. Proses perjalanan pemekaran yang sejak awal menuai polemik, semakin memperlihatkan tantangan dan hambatan dalam implementasinya.

Hal ini disampaikan langsung oleh Anggota DPRD Halmahera Barat, Dasril. Ia menilai bahwa langkah pemekaran yang menjadikan Sofifi sebagai pusat DOB belum menunjukkan hasil signifikan, baik secara infrastruktur, tata kelola pemerintahan, maupun keberpihakan terhadap aspirasi masyarakat.

Menurut Dasril, wacana pemekaran wilayah seharusnya tidak hanya berorientasi pada kepentingan elite atau simbol semata, tetapi benar-benar mencerminkan kesiapan wilayah, legitimasi historis, dan daya dukung pembangunan yang berkelanjutan.

“Sofifi hari ini masih menghadapi banyak kendala, baik dari sisi kesiapan infrastruktur, pembentukan perangkat daerah, hingga belum terbangunnya kesepahaman yang kuat antarwilayah,” ujar Dasril kepada media ini, Senin (28/7).

Ia menyebut, seharusnya pemerintah kembali mempertimbangkan Sidangoli atau Goal sebagai lokasi alternatif DOB, mengingat keduanya telah melalui kajian panjang dan bahkan sempat mendapatkan lampu hijau dari Kementerian Dalam Negeri sebelum “dicuri” dan diletakan di Sofifi.

Baca Juga :  Target Tingkatkan PAD, Bapenda Halbar Gelar Rapat Evaluasi dan Susun Strategi

“Kita jangan tutup mata bahwa Sidangoli dan Goal sejak awal sudah diakui memiliki kelayakan sebagai pusat DOB. Bahkan pernah disetujui Kemendagri, tapi entah bagaimana, opsi itu bergeser ke Sofifi tanpa proses yang transparan,” tambah Dasril.

Lebih lanjut, Dasril menjelaskan bahwa fokus wacana DOB di Sofifi justru telah menjadi sumber polarisasi di tengah masyarakat. Pro dan kontra yang terus mengemuka membuat agenda pemekaran justru stagnan dan tidak produktif.

Ketua DPD PAN Halmahera Barat ini menilai, jika pemerintah daerah tetap memaksakan Sofifi tanpa evaluasi menyeluruh, maka potensi konflik sosial dan kegagalan kelembagaan akan semakin besar. Oleh karena itu, ia mendorong dibukanya kembali ruang dialog terbuka secara objektif dan menyeluruh.

“Jangan sampai energi publik kita habis hanya untuk mempertahankan satu lokasi yang belum tentu siap, sementara ada dua pilihan lain yang lebih matang baik dari sisi sejarah, sosial, maupun fisik wilayahnya,” tegasnya.

Baca Juga :  Dodinga hingga Bobane Igo Menanti Kapal Perintis, Konektivitas Masih “Baku Tunggu”

Dasril juga menegaskan bahwa DOB bukan sekadar soal penetapan administratif, tetapi harus menjadi solusi pemerataan pembangunan dan penguatan identitas daerah secara substansial.

“Sidangoli memiliki posisi strategis di jalur lintas wilayah, begitu juga Goal yang memiliki rekam jejak historis kuat sebagai pusat aktivitas pemerintahan lokal di masa lalu,” terang Dasril.

Ia juga menyoroti pentingnya keterlibatan semua elemen masyarakat dalam menentukan arah masa depan wilayah, bukan hanya keputusan segelintir elit atau aktor birokrasi.

“Masyarakat harus dilibatkan secara penuh. Jangan sampai keputusan sepihak mengorbankan kehendak kolektif rakyat Maluku Utara,” katanya lagi.

Menurutnya, dengan membangkitkan kembali opsi Sidangoli dan Goal, maka pemerintah memiliki peluang untuk membangun DOB yang benar-benar merepresentasikan harapan dan kebutuhan masyarakat lintas kabupaten/kota di Maluku Utara.

“Saya mengajak Bupati james Uang, Gubernur Sherly Laos dan seluruh pihak untuk bersama-sama meninjau ulang arah kebijakan ini. Sidangoli dan Goal bisa menjadi solusi rasional dan berpihak pada kepentingan jangka panjang rakyat Maluku Utara,” pungkas Dasril.*(Ghe/Red).

Berita Terkait

Pendidikan Halbar Makin Digital, 747 Unit Smart TV Siap Dimanfaatkan
Ketua Gerindra Halbar Luruskan Dugaan Pemotongan Uang Saku Laskar, Klaim Hanya Miskomunikasi
Kader Laskar Gerindra Mengaku Uang Saku Diklat Dipajaki oleh Oknum DPRD Halbar
Jembatan Sawa Rp157 Juta, Panjang Bangunan Diduga Jauh dari Rencana
Kementerian dan IFAD Sambangi Tuada, BUMDes, UMKM dan Tambak Udang Unjuk Potensi
TAPD Halbar Tindak Lanjuti Evaluasi Provinsi, APBD Perubahan Menunggu Nomor Registrasi
APBD Perubahan Halbar Terancam Mandek, DPRD Desak TAPD Segera Tuntaskan Koreksi Provinsi
Asap Karhutla Selimuti Halbar, Bupati James : Pembagian Masker hingga Kesiapsiagaan Hadapi Perubahan Cuaca Diperketat
Berita ini 315 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 25 Oktober 2026 - 21:43 WIB

Pendidikan Halbar Makin Digital, 747 Unit Smart TV Siap Dimanfaatkan

Jumat, 23 Oktober 2026 - 11:25 WIB

Ketua Gerindra Halbar Luruskan Dugaan Pemotongan Uang Saku Laskar, Klaim Hanya Miskomunikasi

Kamis, 22 Oktober 2026 - 15:25 WIB

Kader Laskar Gerindra Mengaku Uang Saku Diklat Dipajaki oleh Oknum DPRD Halbar

Rabu, 21 Oktober 2026 - 07:38 WIB

Jembatan Sawa Rp157 Juta, Panjang Bangunan Diduga Jauh dari Rencana

Senin, 19 Oktober 2026 - 23:33 WIB

TAPD Halbar Tindak Lanjuti Evaluasi Provinsi, APBD Perubahan Menunggu Nomor Registrasi

Berita Terbaru

error: