Dikeroyok Hingga Bersimbah Darah, Penanganan Kasus Jalan di Tempat?

Korban mengaku dihajar sekelompok orang, namun proses hukum dinilai belum menunjukkan perkembangan signifikan

- Jurnalis

Senin, 20 April 2026 - 20:35 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi

Ilustrasi


teras
malut
— Aksi kekerasan brutal kembali mencoreng rasa aman di ruang publik. Seorang warga Desa Bobanehena, Kabupaten Halmahera Barat, menjadi korban dugaan pengeroyokan oleh sekelompok buruh di Pelabuhan Jailolo. Ironisnya, hingga kini penanganan kasus tersebut dinilai belum menunjukkan progres yang jelas, memicu tanda tanya besar terhadap kesigapan aparat penegak hukum.

Korban, Anwar Maruf, mengungkapkan bahwa peristiwa itu terjadi pada Rabu (15/04/26), malam sekitar pukul 23.00 WIT saat dirinya bersama rekannya, Amir Muid, mendatangi pelabuhan untuk memastikan jadwal keberangkatan kapal menuju Ternate keesokan hari.

“Jadi saya dan Amir Muid dari banhena ke pelabuhan itu untuk cek kapal besok karena saya mau ke ternate untuk membawakan kambing dan ayam, dan ketika sampai di pelabuhan saya dan amir sedang duduk bercerita di emperan pelabuhan, tiba-tiba kita didatangi oleh adi yang bekerja sebagai buruh,”ujar Anwar.

Situasi yang awalnya tenang berubah tegang ketika seorang buruh bernama Adi yang dikatehui beralamat di desa jalan baru, yang diduga dalam kondisi mabuk, menghampiri mereka. Teguran ringan dari Amir justru memicu respons agresif yang berujung pada tindakan kekerasan.

Baca Juga :  Sebanyak 999 Kuota Dibuka Untuk PPPK Kabupaten Halmahera Barat

“Adi yang ketika dalam perjalanan menuju ke lokasi tempat kita duduk tampak dalam kondisi mabuk, kemudian amir menegur hati-hati jangan sampai jatuh. Kemudian adi mengatakan kamu bilang apa (ngana bilang apa), lalu amir menjawab kamu tidak kenal saya, saya ini orang banhena (Ngana tara kanal kita, kita ini orang banhena),”jelasnya.

Ketegangan tersebut berujung pada serangan fisik secara tiba-tiba yang kemudian berkembang menjadi pengeroyokan oleh sejumlah orang lainnya.

“Selanjutnya Adi kemudian berjalan beberapa langkah lalu berbalik dan meninju saya. Padahal saya tidak tau apa-apa karena yang menegur Adi itu bukan saya tapi Amir, Seketika wajah saya langsung mengeluarkan darah dan saya terjatuh ke permukaan jalan. Selang beberapa detik kemudian salah satu teman adi ikut memukul saya dan selanjutnya teman-temannya sekitar 10 orang mengeroyok saya yang sedang terbaring, bahkan saya diinjak-injak tanpa belas kasihan,”ungkap Anuar.

Dalam kondisi terluka parah dan bersimbah darah, korban berupaya menyelamatkan diri dari amukan massa.

“Merasa teraniaya, saya kemudian lari untuk menyelamatkan diri dalam keadaan bersimbah darah. Saya lalu meminta salah satu warga desa Guaemaadu mengantar saya kerumah tetapi dalam perjalan saya meminta agar ke polres saja untuk membuat laporan polisi pada malam itu juga,”katanya.

Baca Juga :  Tikung Muslim Dade di TPS 2, Bahrain Habib Ditetapkan Sebagai Kades Desa Gamsungi

Setelah membuat laporan, dirinya meminta pihak kepolisian untuk dibawa rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis karena merasa kondisinya sangat parah.

“Merasa pusing dan seluruh badan sakit, saya lalu meminta petugas (Polisi) untuk membawakan saya ke rumah sakit agar mendapatkan pertolongan medis sekaligus untuk di visum,”akunya.

Meski laporan telah dibuat sejak malam kejadian, korban mengaku belum mendapatkan kepastian hukum yang memadai. Ia bahkan kembali mendatangi SPKT untuk mempertanyakan perkembangan kasus tersebut.

“Pertama saya buat laporan pada rabu malam, namun saya merasa tidak puas karena belum ada perkembangan, senin (20/4/26) saya kemudian mendatangi SPKT untuk menanyakan perkembangannya. Parahnya, ketika saya menanyakan ke pihak SPKT salah satu anggota mengatakan pihaknya masih sibuk karena menangani banyak kasus sehingga saya diminta untuk bersabar. Bahkan petugas di SPKT mengaku para terduga pengeroyokan sudah dua orang yang diamankan di dalam sel padahal ketika saya cek tidak ada sampai saya keluar dari polres,”tutupnya.

Berita Terkait

Emosi di IGD Berujung Laporan Polisi, Ketua Organda Halbar Diduga Caci dan Intimidasi Dokter
Polisi Pastikan Berkas AN Segera Dikirim ke Kejaksaan, Penahanan Bukan Syarat Pelimpahan
Perkuat Pengawasan RSUD Jailolo, Pemkab Halbar Tetapkan Dewan Pengawas Baru
Kasus RMD Belum Beranjak ke P-21, Kejari Siapkan Evaluasi Menyeluruh atas Penyidikan
Aksi Pemdes Berbuah Kesepakatan, Pemkab Halbar Komitmen Tuntaskan Tunggakan Siltap
Kakek Korban Angkat Bicara, Nilai Penanganan Kasus Dugaan Pelecehan Belum Berpijak pada Seluruh Fakta
P-19 Berulang, Penyidik Diminta Terbitkan SP3
BPIP RI Ingatkan Bahaya Lunturnya Nilai Kebangsaan, Halbar Jadi Titik Penguatan Pancasila
Berita ini 30 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 21 Juli 2026 - 20:34 WIB

Emosi di IGD Berujung Laporan Polisi, Ketua Organda Halbar Diduga Caci dan Intimidasi Dokter

Sabtu, 18 Juli 2026 - 09:25 WIB

Polisi Pastikan Berkas AN Segera Dikirim ke Kejaksaan, Penahanan Bukan Syarat Pelimpahan

Kamis, 2 Juli 2026 - 15:19 WIB

Perkuat Pengawasan RSUD Jailolo, Pemkab Halbar Tetapkan Dewan Pengawas Baru

Senin, 29 Juni 2026 - 18:12 WIB

Kasus RMD Belum Beranjak ke P-21, Kejari Siapkan Evaluasi Menyeluruh atas Penyidikan

Senin, 29 Juni 2026 - 11:54 WIB

Aksi Pemdes Berbuah Kesepakatan, Pemkab Halbar Komitmen Tuntaskan Tunggakan Siltap

Berita Terbaru

Ketua SEMAINDO Halmahera Barat DKI Jakarta, Sahrir Jamsin

Hukum & Kriminal

SEMAINDO Tagih Transparansi Polres Halbar dalam Penanganan Kasus RMD

Jumat, 17 Jul 2026 - 17:15 WIB

error: