terasmalut — Suasana Desa Dodinga berubah semarak ketika ribuan warga berbondong-bondong menghadiri pembukaan Festival Teluk Jailolo (FTJ) 2026. Mengusung tema “Cultural Heritage Collaboration for Upscale Tourism”, ajang pariwisata unggulan yang masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN) Kementerian Pariwisata ini tidak hanya menampilkan kekayaan budaya dan potensi wisata daerah, tetapi juga menandai pencanangan Desa Wisata Dodinga sebagai “Kampung Wallace”, sebuah kawasan wisata edukatif berbasis sejarah, ilmu pengetahuan, budaya, dan konservasi lingkungan.
Pembukaan festival berlangsung meriah dan dihadiri langsung oleh Bupati Halmahera Barat bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda). Sejumlah pejabat penting turut hadir, di antaranya Kapolres Halmahera Barat, Ketua DPRD Kabupaten Halmahera Barat, Kepala Kejaksaan Negeri, Komandan Kodim, Danramil setempat, pimpinan organisasi perangkat daerah, tokoh adat, tokoh masyarakat, serta para pelaku usaha pariwisata. Kehadiran ribuan masyarakat dari berbagai wilayah semakin menegaskan antusiasme publik terhadap festival yang telah menjadi ikon pariwisata Maluku Utara tersebut.
Salah satu daya tarik pada pembukaan festival adalah penampilan seni tradisional Sanggar Starsa Desa Dodinga yang membawakan tarian khas Cakalele, simbol keberanian dan kekayaan budaya warisan leluhur masyarakat Maluku Utara. Mengusung tema utama “Goes To Dodinga”, festival kali ini mengangkat kearifan lokal sekaligus semangat kebersamaan warga.
Dalam sambutannya, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pariwisata dan Pemuda Olahraga Halmahera Barat, Reinhard Bunga, menegaskan bahwa pariwisata tidak sekadar soal kunjungan, melainkan menjadi instrumen strategis pembangunan bangsa.
“Kita tengah menyongsong momen penting menuju masa depan yang lebih cerah. Di tahun-tahun mendatang, pariwisata harus mampu melahirkan kreativitas dan inovasi yang berkelanjutan, sekaligus memperkuat ikatan batin dan rasa memiliki di antara seluruh lapisan masyarakat,” ujarnya.
Lebih lanjut, Reinhard menyampaikan pesan mendalam tentang pentingnya promosi dan kepedulian terhadap lingkungan. Ia menggunakan perumpamaan sederhana namun menyentuh. “Sebuah permata yang indah pun tidak akan bernilai tinggi jika disimpan dalam kegelapan, apalagi jika dibiarkan kusam tanpa dirawat. Begitu pula dengan Desa Dodinga. Tempat ini menyimpan kekayaan alam dan sejarah yang luar biasa, namun membutuhkan upaya nyata agar ‘berkilau’ dan dikenal luas.”
Mantan Plt Kepala Inspektorat Halbar itu menyebut penyelenggaraan FTJ di Dodinga tahun ini merupakan langkah besar untuk menggali potensi yang selama ini masih tersimpan. Bahkan, ia mengaitkannya dengan semangat pelestarian alam yang sejalan dengan pemikiran revolusi lingkungan.
“Tema yang kami usung tahun ini juga bermakna kolaborasi: ‘Kolaborasi Kita Naik Kelas’. Ini bukan hanya tentang merayakan budaya, tetapi bagaimana kita bersinergi menjaga alam, mengembangkan ekonomi lokal, dan membuka ruang bagi kemitraan dengan berbagai pihak, termasuk dari luar daerah,” tegasnya.
Dengan suksesnya pembukaan ini, diharapkan Festival Teluk Jailolo tidak hanya menjadi agenda hiburan semata, melainkan bukti nyata bahwa budaya, alam, dan kebersamaan dapat berjalan beriringan menuju kemajuan daerah.
Sementara itu, Bupati Halmahera Barat, James Uang, menegaskan bahwa Festival Teluk Jailolo 2026 bukan sekadar agenda tahunan, melainkan momentum penting yang mempertemukan budaya, sejarah, dan pembangunan daerah dalam satu kolaborasi besar.
“Malam ini bukan sekadar seremoni pembukaan sebuah festival. Malam ini adalah peristiwa budaya, peristiwa sejarah, sekaligus momentum strategis pembangunan daerah yang mempertemukan identitas, pengetahuan, dan masa depan dalam satu ruang kolaborasi,” ujar James.
Menurut James, kembalinya Festival Teluk Jailolo dalam agenda Karisma Event Nusantara menjadi bukti bahwa Halmahera Barat mampu menjaga warisan budaya dan lingkungan sebagai fondasi pembangunan pariwisata berkelanjutan.
Ia menjelaskan bahwa pencanangan Kampung Wallace memiliki nilai historis dan ilmiah yang kuat karena terinspirasi dari ilmuwan dan ahli biogeografi dunia, Alfred Russel Wallace, yang pernah melakukan penelitian di kawasan Maluku.
“Kampung Wallace bukan sekadar destinasi wisata. Ia adalah ruang pembelajaran, pusat interpretasi sejarah, konservasi keanekaragaman hayati, dan penguatan literasi ekologis bagi generasi masa depan,” tegas James. (Ghe/Red).

















