terasmalut — Kepala Desa Gamici, Kecamatan Ibu, Kabupaten Halmahera Barat (Halbar), Provinsi Maluku Utara, menjadi salah satu peserta Program Benchmarking Kepala Desa Batch 6 ke Provinsi Yunnan, Tiongkok, yang berlangsung pada 9–16 September 2026.
Kegiatan tersebut menjadi ruang pembelajaran untuk memperluas wawasan kepala desa dalam mengembangkan potensi lokal, memperkuat ekonomi masyarakat, serta membangun inovasi desa yang disesuaikan dengan karakter wilayah masing-masing.
Selama tujuh hari, peserta yang merupakan Kepala Desa dari sejumlah desa di Indonesia ini didampingi Kepala Badan Pengembangan dan Informasi desa dan daerah tertinggal Mulyadi Malik, dan Biro Humas, Nita Arie Hasbullah, mengikuti rangkaian pembelajaran yang memadukan kelas formal dengan pembelajaran langsung di lapangan atau field lessons. Kegiatan tersebut mencakup pembelajaran di Universitas Minzu Yunnan serta kunjungan ke sejumlah desa dan sentra industri yang dinilai berhasil mengembangkan potensi lokal menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat.
Bagi Kepala Desa Gamici, Almudafar Dumade, pengalaman tersebut memberikan perspektif mengenai pentingnya mengidentifikasi potensi yang dimiliki desa sebelum menentukan arah pengembangannya. Pendekatan yang dipelajari di Yunnan menunjukkan bahwa sumber daya lokal dapat dikembangkan secara lebih produktif melalui peningkatan kualitas, inovasi, teknologi, penguatan kelembagaan, serta dukungan akses terhadap pasar.
“Benchmarking ini memberikan pengalaman yang sangat berarti karena kami tidak hanya mendapatkan materi secara teoritis, tetapi juga melihat langsung bagaimana desa dan masyarakat mengembangkan potensi yang mereka miliki menjadi kegiatan ekonomi yang memiliki nilai tambah,”ungkap Almudafar Dumade.
Rangkaian pembelajaran berlangsung di sejumlah lokasi, antara lain Kunming, Jinghong di Xishuangbanna, Desa Haiyan, Desa Manyuan, Desa Manzhao, kawasan Gaozhuang Xishuangjing, Puwen, Pasar Bunga Dounan, Kota Perdagangan Luosiwang, PT Hongzhen, serta industri perikanan Yunbo. Masing-masing lokasi memberikan gambaran mengenai pengembangan komoditas, pertanian, perikanan, perdagangan, pariwisata, budaya, hingga pengelolaan aktivitas ekonomi masyarakat.
Ia menyebut, Salah satu aspek yang menjadi perhatian dalam kegiatan tersebut adalah bagaimana komoditas unggulan desa tidak hanya diposisikan sebagai hasil produksi, tetapi dikembangkan menjadi bagian dari rantai nilai yang lebih luas. Produk lokal dapat memperoleh nilai tambah melalui pengolahan, pengemasan, pemasaran, teknologi, serta integrasi dengan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

“Yang menjadi pembelajaran penting bagi kami adalah bagaimana potensi desa bisa dikembangkan secara bertahap. Tidak cukup hanya menghasilkan komoditas, tetapi perlu dipikirkan bagaimana meningkatkan kualitasnya, memperluas pasar, membangun kemitraan, dan menjadikannya sebagai sumber pendapatan yang berkelanjutan bagi masyarakat,”katanya.
Selain pengembangan komoditas, Almudafar menyebut, pihaknya juga mempelajari inovasi pertanian dan perikanan berbasis teknologi, pemanfaatan warisan budaya sebagai aset ekonomi, pengembangan pariwisata berbasis desa, serta aktivitas ekonomi malam. Praktik tersebut, Sambung dia, memperlihatkan pentingnya keterhubungan antara pemerintah, masyarakat, pelaku usaha, dan berbagai pemangku kepentingan dalam membangun ekosistem ekonomi lokal.
Pembelajaran melalui kunjungan lapangan menjadi bagian penting dari program tersebut. Peserta dapat melihat secara langsung proses pengembangan desa dan industri, melakukan dialog dengan pelaku di lapangan, sekaligus memahami tantangan yang dihadapi dalam menerapkan suatu inovasi. Pengetahuan tersebut menjadi bahan pertimbangan untuk menentukan praktik yang dapat diadaptasi sesuai kondisi desa masing-masing.
“Setiap desa memiliki karakter dan potensi yang berbeda. Karena itu, apa yang kami lihat di Yunnan tentu tidak bisa diterapkan begitu saja. Yang penting adalah mengambil prinsip dan praktik yang relevan, kemudian menyesuaikannya dengan kondisi, kebutuhan, sumber daya, serta kemampuan masyarakat di Desa Gamici,”ujarnya.
Hasil pembelajaran dari benchmarking tersebut diharapkan dapat diteruskan melalui pemetaan potensi dan komoditas unggulan Desa Gamici, pengembangan teknologi tepat guna, penguatan aktivitas ekonomi masyarakat, serta peluang pengembangan sektor pariwisata dan budaya. Langkah tersebut membutuhkan perencanaan yang terukur dan kolaborasi antara pemerintah desa, masyarakat, pelaku usaha, maupun pihak terkait lainnya.
Pengalaman selama benchmarking Kata Almudafar, diharapkan tidak berhenti sebagai pengetahuan individual, tetapi dapat didiseminasikan kepada perangkat desa dan masyarakat.
Selanjutnya, praktik yang relevan dapat dikembangkan melalui proyek percontohan, replikasi secara bertahap, serta monitoring dan evaluasi untuk memastikan setiap program benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Harapannya, pengalaman dari kegiatan ini bisa kami bawa pulang dan diterjemahkan menjadi langkah nyata di desa. Kami ingin potensi yang ada di Gamici dapat dipetakan dan dikembangkan secara lebih terarah, sehingga mampu membuka peluang ekonomi baru, meningkatkan kemandirian masyarakat, dan pada akhirnya ikut mendorong terwujudnya desa yang semakin inovatif, mandiri, dan sejahtera,” tutup Almudafar Dumade, Kepala Desa Gamici.*(Ghe/Red)
















