terasmalut – Kontingen Halmahera Barat berhasil menorehkan prestasi gemilang dalam ajang Ekspedisi Pesparawi tingkat Maluku Utara yang digelar pada 12 hingga 15 September lalu. Dalam kegiatan yang berlangsung di Ternate ini, Halmahera Barat mengirimkan tiga kategori, yakni Paduan Suara Anak, Paduan Suara Pria, dan Musik Pop Gerejawi.
Menurut Sekretaris Daerah (Sekda) Halmahera Barat, Julius Marau, ketiga kategori tersebut sebelumnya telah menorehkan prestasi sebagai juara pada Pesparawi tahun 2004, sehingga tahun ini mereka tidak lagi ikut dalam sistem perlombaan, tetapi tampil dalam sesi ekspedisi sebagai bentuk apresiasi atas capaian sebelumnya.
“Dalam pelaksanaan tahun ini, tiga kategori tersebut tidak lagi dilombakan karena pada tahun 2004 telah meraih juara. Mereka tampil dalam ekspedisi untuk menunjukkan kualitas yang dimiliki dan mempersiapkan diri menuju ajang nasional,” ujar Julius Marau.
Selain ekspedisi, Julius menyebut, tahun ini untuk pertama kalinya diselenggarakan lomba Musik Gerejawi di tingkat provinsi. Dalam kategori ini, kontingen Halmahera Barat berhasil meraih juara pertama dan membawa pulang Piala Gubernur Maluku Utara.
Capaian tersebut kata Julius, juga disertai bonus dari Gubernur sebagai bentuk dukungan persiapan menuju Pesparawi Nasional tahun 2026 yang akan digelar di Manokwari.
“Puji Tuhan, Halmahera Barat keluar sebagai juara pertama dalam lomba Musik Gerejawi dan berhasil membawa pulang Piala Gubernur. Ini menjadi kebanggaan sekaligus motivasi bagi kami untuk terus meningkatkan kualitas dalam menghadapi Pesparawi Nasional tahun 2026 di Manokwari,”kata Julius Marau.
Mantan Kepala Inspektorat Halbar ini menambahkan, menambahkan, Halmahera Barat menjadi salah satu daerah yang mengirimkan peserta terbanyak mewakili Maluku Utara pada tiga kategori tersebut. Hal ini menunjukkan konsistensi dan kualitas para pelaku musik gerejawi dari Halmahera Barat yang telah berpengalaman dalam berbagai event serupa di tingkat provinsi.
“Berdasarkan pengalaman panjang mereka dalam berbagai event, kami menilai bahwa Desa Tosoa layak ditetapkan sebagai desa khusus musik gerejawi. Ini penting agar potensi musik gerejawi tidak hanya menjadi ajang perlombaan, tetapi juga memberi nilai ekonomis bagi masyarakat setempat,” jelas Julius Marau.
Menurutnya, penetapan Desa Tosoa sebagai desa khusus musik gerejawi akan membuka peluang dukungan kebijakan pemerintah, baik di tingkat daerah maupun desa, khususnya dalam pengembangan keterampilan warga di bidang pembuatan alat musik gerejawi serta penguatan sektor UMKM.
“Jika ditetapkan sebagai desa khusus, maka pemerintah daerah akan memfasilitasi pelatihan keterampilan pembuatan alat musik gerejawi bagi warga setempat. Ini bisa menjadi produk bernilai jual yang dipasarkan ke desa-desa lain maupun platform UMKM,” terang Julius Marau.
Lebih jauh ia menyebutkan, pengembangan Desa Tosoa sebagai desa musik gerejawi juga akan memperkaya destinasi wisata Halmahera Barat yang selama ini didominasi wisata alam seperti pantai dan pegunungan. Langkah ini akan memperkuat identitas budaya lokal sekaligus menarik minat wisatawan.
“Dengan menetapkan Desa Tosoa sebagai desa khusus musik gerejawi, kami ingin menjadikannya sebagai destinasi wisata budaya baru di Halmahera Barat, sehingga potensi seni musik gerejawi dapat berkembang sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat,”pungkas Julius Marau.*(Ghe/Red)














