terasmalut — Staf Khusus Bupati Halmahera Barat, Hikayat Abd Rahman, menilai penolakan investasi di Halmahera Barat yang tidak berbasis kajian akademis sebagai sikap tidak konstruktif dan berisiko menghambat pertumbuhan ekonomi daerah.
Menurut Hikayat, sikap tersebut tidak sejalan dengan kebutuhan daerah yang saat ini membutuhkan dukungan terhadap pembangunan dan investasi guna mendorong pertumbuhan ekonomi serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Ia menyoroti bahwa penolakan tersebut datang dari seorang mantan anggota DPRD yang seharusnya memahami pentingnya investasi sebagai salah satu instrumen utama dalam pembangunan daerah.
“Hemat saya, daerah ini tidak akan maju hanya dengan teriakan dan provokasi. Perlu gagasan besar, data yang kuat, dan solusi nyata,” ujar Hikayat.
Ia menambahkan, sebagai mantan legislator, Franky Luang semestinya hadir dengan pemikiran konstruktif, bukan justru mempertontonkan pola pikir picik yang melihat setiap langkah pemerintah sebagai ancaman.
Hikayat menegaskan, menolak investasi sebelum melalui proses kajian yang komprehensif merupakan bentuk cara berpikir yang tidak utuh terhadap masa depan Halmahera Barat. Padahal, setiap rencana investasi pada dasarnya melalui tahapan analisis dan pertimbangan yang matang dari berbagai pihak.
Lebih lanjut, ia mempertanyakan kontribusi yang pernah diberikan selama menjabat sebagai anggota legislatif. Menurutnya, publik berhak mengetahui sejauh mana terobosan yang telah dilakukan untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD), membuka lapangan kerja, serta mendorong kesejahteraan masyarakat.
“Kalau yang ditawarkan hari ini hanya narasi penolakan, maka wajar jika masyarakat menilai kritik tersebut lebih bernuansa kepentingan politik daripada kepedulian terhadap rakyat,”katanya.
Ia juga menilai konstruksi berpikir yang tidak utuh berpotensi melahirkan kesimpulan yang keliru, di mana semua investasi dianggap buruk, setiap kebijakan dinilai salah, dan seluruh langkah pemerintah selalu dicurigai.
“Ini bukan sikap kritis, melainkan bentuk kepanikan politik karena kehilangan panggung,” tegasnya.
Hikayat menambahkan, Halmahera Barat membutuhkan figur yang berpikir maju, terbuka terhadap perubahan, dan mampu menawarkan solusi nyata, bukan yang terjebak pada dendam politik masa lalu.
“Masyarakat butuh pekerjaan, pembangunan, dan harapan baru. Bukan polemik yang tidak produktif dari elit yang sibuk meratapi dinamika politiknya,” ujarnya.
Ia pun mengingatkan bahwa jika tidak mampu memberikan solusi, setidaknya tidak menghambat jalannya pembangunan daerah.
“Masa depan Halmahera Barat terlalu berharga untuk disandera oleh ego dan frustrasi politik segelintir orang,”tutup Hikayat.*(Ghe/Red)













