terasmalut — Aksi kekerasan brutal kembali mencoreng rasa aman di ruang publik. Seorang warga Desa Bobanehena, Kabupaten Halmahera Barat, menjadi korban dugaan pengeroyokan oleh sekelompok buruh di Pelabuhan Jailolo. Ironisnya, hingga kini penanganan kasus tersebut dinilai belum menunjukkan progres yang jelas, memicu tanda tanya besar terhadap kesigapan aparat penegak hukum.
Korban, Anwar Maruf, mengungkapkan bahwa peristiwa itu terjadi pada Rabu (15/04/26), malam sekitar pukul 23.00 WIT saat dirinya bersama rekannya, Amir Muid, mendatangi pelabuhan untuk memastikan jadwal keberangkatan kapal menuju Ternate keesokan hari.
“Jadi saya dan Amir Muid dari banhena ke pelabuhan itu untuk cek kapal besok karena saya mau ke ternate untuk membawakan kambing dan ayam, dan ketika sampai di pelabuhan saya dan amir sedang duduk bercerita di emperan pelabuhan, tiba-tiba kita didatangi oleh adi yang bekerja sebagai buruh,”ujar Anwar.
Situasi yang awalnya tenang berubah tegang ketika seorang buruh bernama Adi yang dikatehui beralamat di desa jalan baru, yang diduga dalam kondisi mabuk, menghampiri mereka. Teguran ringan dari Amir justru memicu respons agresif yang berujung pada tindakan kekerasan.
“Adi yang ketika dalam perjalanan menuju ke lokasi tempat kita duduk tampak dalam kondisi mabuk, kemudian amir menegur hati-hati jangan sampai jatuh. Kemudian adi mengatakan kamu bilang apa (ngana bilang apa), lalu amir menjawab kamu tidak kenal saya, saya ini orang banhena (Ngana tara kanal kita, kita ini orang banhena),”jelasnya.
Ketegangan tersebut berujung pada serangan fisik secara tiba-tiba yang kemudian berkembang menjadi pengeroyokan oleh sejumlah orang lainnya.
“Selanjutnya Adi kemudian berjalan beberapa langkah lalu berbalik dan meninju saya. Padahal saya tidak tau apa-apa karena yang menegur Adi itu bukan saya tapi Amir, Seketika wajah saya langsung mengeluarkan darah dan saya terjatuh ke permukaan jalan. Selang beberapa detik kemudian salah satu teman adi ikut memukul saya dan selanjutnya teman-temannya sekitar 10 orang mengeroyok saya yang sedang terbaring, bahkan saya diinjak-injak tanpa belas kasihan,”ungkap Anuar.
Dalam kondisi terluka parah dan bersimbah darah, korban berupaya menyelamatkan diri dari amukan massa.
“Merasa teraniaya, saya kemudian lari untuk menyelamatkan diri dalam keadaan bersimbah darah. Saya lalu meminta salah satu warga desa Guaemaadu mengantar saya kerumah tetapi dalam perjalan saya meminta agar ke polres saja untuk membuat laporan polisi pada malam itu juga,”katanya.
Setelah membuat laporan, dirinya meminta pihak kepolisian untuk dibawa rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis karena merasa kondisinya sangat parah.
“Merasa pusing dan seluruh badan sakit, saya lalu meminta petugas (Polisi) untuk membawakan saya ke rumah sakit agar mendapatkan pertolongan medis sekaligus untuk di visum,”akunya.
Meski laporan telah dibuat sejak malam kejadian, korban mengaku belum mendapatkan kepastian hukum yang memadai. Ia bahkan kembali mendatangi SPKT untuk mempertanyakan perkembangan kasus tersebut.
“Pertama saya buat laporan pada rabu malam, namun saya merasa tidak puas karena belum ada perkembangan, senin (20/4/26) saya kemudian mendatangi SPKT untuk menanyakan perkembangannya. Parahnya, ketika saya menanyakan ke pihak SPKT salah satu anggota mengatakan pihaknya masih sibuk karena menangani banyak kasus sehingga saya diminta untuk bersabar. Bahkan petugas di SPKT mengaku para terduga pengeroyokan sudah dua orang yang diamankan di dalam sel padahal ketika saya cek tidak ada sampai saya keluar dari polres,”tutupnya.














